Nupho

Nisan yang menunjukkan 36 Juta Korban Mati Kelaparan

Posted on: February 22, 2009

Bagaimana membayangkan 36 juta orang meninggal karena kelaparan? Itu setara dengan menjatuhkan 450 buah bom nuklir di pedesaan di Tiongkok, setara dengan terjadinya 150 kali gempa dahsyat Tangshan. Perang Dunia I menewaskan lebih dari 10 juta jiwa, hanya dalam 1 tahun saja pada 1960 korban kelaparan di Tiongkok yang meninggal dunia mencapai lebih dari 15 juta jiwa..
2008 lalu, telah menandai peringatan 50 tahun Lompatan Besar sekaligus juga peringatan 30 tahun Keterbukaan, dan 3 Tahun Bencana Kelaparan yang disebabkan oleh gerakan Lompatan Besar selama setengah abad ini, merupakan tragedi yang paling menyedihkan yang pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia.

Di tengah kondisi iklim yang normal sepanjang tahun, tidak ada perang, tidak ada wabah penyakit, justru puluhan juta jiwa manusia mati akibat kelaparan, sehingga muncul fenomena kanibalisme, manusia makan manusia. Kini bencana kelaparan telah 50 tahun berlalu, sejarah ini masih belum juga jelas, puluhan juta arwah gentayangan tanpa tujuan.

Seorang jurnalis senior dari kantor berita Xinhua yang sudah pensiun, yang sekarang menjabat sebagai wakil redaktur majalah Yen Huang Chun Qiu bernama Yang Jisheng, pada Mei tahun lalu menerbitkan karya dokumenter berjudul “Batu Nisan — Memperingati 60 Tahun Bencana Kelaparan di Tiongkok”.

Isi buku ini mencapai 80 ribu kata lebih, yang terbagi menjadi dua jilid, sarat dengan darah dan air mata, berisi laporan fakta penyelidikan yang demikian panjang dan mendetail, yang juga menjadikannya sebagai sebuah peta menyeluruh yang nyata terhadap peristiwa bencana kelaparan yang pernah melanda Tiongkok. Mengisahkan fakta sejarah bencana kelaparan yang telah menewaskan lebih dari 36 juta jiwa pada 1960 itu, dan juga memfokuskan pada keadaan korban yang mati kelaparan di 12 propinsi.

Silahkan membaca sepenggal catatan di dalam buku tersebut: tidak ada ratapan yang merana, tidak ada upacara berkabung, tidak ada petasan untuk menandai pemakaman, tidak ada rasa kasihan, tidak ada kesedihan, tidak ada air mata, juga tidak ada keterkejutan dan ketakutan.

Puluhan juta orang lenyap begitu saja dengan senyap tanpa suara dan jiwa yang membatu. Di sejumlah tempat kendaraan besar mengangkut mayat hingga ke dalam lubang besar yang ada di ujung desa, ada tempat yang tidak mampu memakamkan, tangan dan kaki korban masih menyembul keluar. Ada tempat dengan mayat bergelimpangan di jalanan ketika mencari makan, tidak sedikit mayat yang disimpan cukup lama di dalam rumah, sehingga mata dan hidungnya habis dimakan tikus……

Kelaparan sebelum kematian tiba jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Batang jagung sudah habis dimakan, sayur liar sudah habis dimakan, kulit kayu habis dimakan, kotoran burung, tikus, bahkan kapas pun dimakan untuk mengganjal perut. Pada saat menggali tanah liat putih (kaolin), para korban kelaparan terus menggali sembari terus memakan kaolin. Mayat, korban kelaparan dari luar daerah, bahkan sanak keluarga pun menjadi makanan untuk mengganjal perut.
Ayah meninggal mengenaskan

Yang Jisheng menceritakan keadaan ketika sang ayah meninggal secara mengenaskan. Waktu itu akhir April 1959, Yang Jishen sedang bersekolah di SMA 1 di kota Xishui propinsi Hubei, teman masa kecilnya bernama Zhang Zhibo datang terburu-buru ke sekolahnya untuk memberitahunya, “Ayahmu tak mampu lagi menahan lapar, tidak ada lagi tenaga untuk mengupas kulit kayu, beliau hendak pergi ke Jiangjiayen untuk membeli sedikit garam dilarutkan di dalam air untuk diminum, tak disangka beliau roboh di tengah jalan, orang – orang di sekitar sana yang memapahnya pulang ke rumah.”

Yang Jisheng saat itu juga meminta ijin pada guru dan menghentikan jatah makannya selama 3 hari di sekolah, ia mengambil jatah pangannya selama 3 hari itu membawa pulang beras dan segera pulang ke rumahnya.

“Begitu tiba di desa, saya dapati semuanya telah berubah: pohon Yu di depan rumah (pohon itu disebut pohon minyak di kota Xishui) tidak berkulit lagi, putih hingga ke batangnya, akar di bawah juga sudah habis diambil, hanya seonggok lubang besar yang tersisa. Kolam air kering, tetangganya mengatakan bahwa kolam itu dikeringkan demi untuk mencari kerang di dasarnya.

Kerang di sana ada semacam bau amis yang amat menyengat, dulu mereka tidak pernah makan kerang tersebut. Tidak ada lagi gong-gongan anjing, tidak ada ayam berlarian, bahkan anak – anak yang dulunya lincah berlarian dan melompat riang pun diam di rumah. Desa itu diselimuti kesunyian yang mencekam.”

Ia berjalan memasuki rumah, dan mendapati tidak ada sedikit pun makanan, tidak ada benda yang bisa dimakan, di dalam bak air tidak ada setetes air pun. “Begitu laparnya tidak kuat lagi berjalan, mana mungkin ada tenaga untuk menimba air!

Ayah tergolek di atas ranjang, kedua matanya menyusut ke dalam dan kosong tak bercahaya, di wajahnya sama sekali tidak ada daging lagi, keriputnya semakin lebar dan longgar. Beliau hendak menjulurkan tangan memanggil saya, namun tidak mampu dijulurkan. Tangan itu tidak ada bedanya dengan tangan mayat yang yang saya lihat ketika saya mendapat pelajaran biologi untuk membedah mayat tersebut, walaupun di luar masih ada kulit mengering yang membalutnya, namun sama sekali tak mampu menutupi setiap tonjolan atau pun cekungan pada tulang yang terbalut!

Melihat tangan seperti ini, hati saya trenyuh dan terguncang hebat: ternyata kata kiasan ‘kurus kering hingga hanya tinggal kulit membalut tulang’ yang biasa saya ucapkan sehari – hari itu begitu mengerikan dan menyedihkan! Bibir ayah terus bergumam, suaranya sangat lemah, beliau menyuruh saya agar cepat pergi, cepat kembali ke sekolah.”

Ayah menjadi menderita seperti ini, hati Yang Jisheng penuh dengan penyesalan dan menyalahkan dirinya sendiri, “Mengapa saya tidak pulang lebih awal untuk membantu menggali sayuran liar, mengapa tidak lebih awal minta ijin dan membawa pulang beras?” Ia pun memasak bubur dengan beras yang dibawanya, lalu dibawanya ke pinggir ranjang sang ayah, apa daya ayahnya tidak mampu lagi menelan apa pun, tiga hari setelahnya sang ayah pun berpulang.

Kanan: Penduduk desa banyak yang tergeletak karena mati kelaparan di jalan-jalan. Kiri: Penduduk mencari rumput atau tumbuhan liar untuk dimakan.

Kanan: Penduduk desa banyak yang tergeletak karena mati kelaparan di jalan-jalan. Kiri: Penduduk mencari rumput atau tumbuhan liar untuk dimakan.

Tersadar dari penipuan

Setelah memakamkan sang ayah, ia sangat terpukul, namun tidak sedikit pun menyalahkan pemerintah.

“Saya tidak beranggapan bahwa semua ini ada hubungannya dengan pemerintah, juga tidak beranggapan bahwa semua ini ada hubungannya dengan 3 panji merah (yang dimaksud adalah Garis Haluan Besar, Lompatan Besar, dan komune rakyat).”

“Waktu itu saya sangat percaya dan tidak meragukan dengan hasil yang dicapai melalui Lompatan Besar dan keunggulan program komune rakyat yang dipropagandakan itu. Saya tidak tahu masalah yang terjadi di tempat yang lebih jauh, saya mengira bahwa masalah yang terjadi di desa kelahiran saya itu adalah masalah yang spesifik. Saya mengira kematian ayah saya hanyalah ketidak beruntungan yang dialami oleh keluarga saya saja. Ketika saya berpikir bahwa keagungan paham komunis akan segera tiba, apalah artinya kemalangan yang datang menimpa keluarga saya ini? Partai mengajarkan saya agar dalam menghadapi masalah harus mampu ‘mengorbankan diri sendiri yang kecil’ untuk melindungi dan mewujudkan ‘keseluruhan saya yang besar’, dan saya sepenuhnya mentaati perintah partai. Pemahaman semacam itu terus bertahan hingga masa Revolusi Kebudayaan.”

Yang Jisheng berkata bahwa ia tidak meragukan ‘tiga panji merah’, selain ketidaktahuan, ditambah lagi ada tekanan politik teramat besar di seluruh lapisan masyarakat, telah membuatnya tidak berani meragukannya.

“Kritik revolusi yang terus-menerus tiada henti, hukuman kejam yang dilihat dengan mata kepala sendiri maupun yang didengar, membuat timbulnya ketakutan di dalam hati setiap orang. Ketakutan semacam ini bukanlah seperti rasa takut yang datang dan lenyap dengan serta merta seperti saat kita bertemu dengan ular berbisa atau binatang buas, melainkan adalah rasa takut yang telah larut di dalam cairan darah dan urat syaraf kita, sehingga sudah menjadi kemampuan bagi setiap orang untuk bertahan hidup. Orang-orang terus menghindari bahaya politik seolah-olah mereka sedang menghindari kobaran bara api yang hebat.”

Pada 1960 ia berhasil diterima di Universitas Qinghua di Beijing lewat ujian negara, sebagai seorang mahasiswa pun ia masih sangat penurut, ia selalu menjabat sebagai sekretariat partai, pada Mei 1965 ia bergabung dengan Partai Komunis China (PKC), yang membuatnya mengenal perubahan pertama yang terjadi yaitu Revolusi Kebudayaan.

Agustus hingga Desember 1966, ia beserta sejumlah teman sekelasnya bersama-sama mengunjungi lebih dari 20 daerah untuk mengadakan hubungan keluar kota, di setiap daerah terlihat adanya poster dan selebaran yang menyingkap kebobrokan dan arogansi para penguasa dan pejabat tinggi negara.

“Saya pun mulai tidak percaya pada kekuasaan, tidak percaya pada para pejabat, juga tidak percaya lagi pada semua yang diberitakan di koran-koran. Saya mulai meragukan semua kata-kata muluk yang sudah dipropagandakan oleh PKC pada saya. Saya sama dengan masyarakat awam pada umumnya, terjun dan terlibat dalam Revolusi Kebudayaan dengan sikap hendak menentang para penguasa dan pejabat tinggi negara.”

“Pada saat Revolusi Kebudayaan sedang berlangsung, gubernur propinsi Hubei bernama Zhang Lixue mengatakan sesuatu yang mengguncang saya, bahwa selama 3 tahun masa paceklik di propinsi Hubei telah tewas lebih dari 300 ribu orang! Pada saat itulah saya baru mengetahui, bahwa apa yang dulu  menimpa keluarga saya bukanlah suatu masalah yang spesifik.”

Setelah lulus dari Universitas Qinghua, ia ditempatkan di kantor berita Xinhua. Para reporter di kantor berita Xinhua dapat berinteraksi secara leluasa dengan berbagai kalangan masyarakat yang tidak dapat dengan mudah diakses oleh orang awam. Hal ini membuatnya tidak hanya mengetahui berbagai fakta yang tidak sama dengan apa yang tertulis pada buku – buku pelajaran sejarah partai, juga melihat berbagai jenis kesulitan yang dialami oleh buruh di kota dan berbagai kehidupan melarat lainnya.

Sebagai seorang reporter kantor berita Xinhua, ia lebih mengetahui bagaimana ‘berita’ di koran tersebut diciptakan, mengetahui bagaimana instansi berita dan penerangan menjadi ‘penyambung lidah’ bagi para pejabat dan penguasa politik.

Setelah Tiongkok mulai membuka diri, sejumlah pemikiran Tiongkok menjadi longgar, mulailah sebagian dari fakta sejarah tersebut terbongkar.

Yang Jisheng mengatakan, “Dulu partai mengajarkan pada kami, pada masa perang melawan Jepang, hanya partai komunis yang berjuang sendirian melawan Jepang, sementara partai nasionalis (Kuomintang atau disingkat KMT) selalu menyerah dan bernegosiasi. Sekarang kami baru mengetahui, bahwa ternyata KMT-lah yang terus menerus melawan Jepang di ajang perang utama, sehingga ratusan orang jenderalnya wafat dalam membela negara.”

“Dulu partai mengajarkan pada kami, karena bencana alam, di sejumlah daerah telah dilanda kelaparan, sekarang kami baru mengetahui bahwa semua itu adalah ulah komunis sendiri, menyebabkan puluhan juta orang mati kelaparan… Saya mulai menyadari, sejarah partai PKC, bahkan sejarah Tiongkok ratusan tahun terakhir yang sebenarnya, semuanya telah dibelokkan dan direkayasa dengan sedemikian rupa sesuai dengan keinginan partai komunis.”

Begitu menyadari bahwa dirinya telah sekian lama tertipu, timbullah suatu kekuatan yang amat dahsyat untuk melepaskan diri dari penipuan ini. Semakin para penguasa menutupi fakta, akan membuatnya semakin getol mencari fakta yang sesungguhnya.

Yang Jishen tidak hanya membaca data – data sejarah dalam skala besar, juga rajin mencari fakta kebenaran pada setiap kali ia melakukan liputan berita.

“Keributan Beijing pada 1989 (Peristiwa 4 Juni atau Tiananmen) yang saya alami sendiri,  justru membuat saya semakin sadar dan jelas. Darah segar para pelajar yang masih belia, telah berhasil menghapus semua kebohongan yang tertampung di dalam otak saya selama puluhan tahun ini. Sebagai seorang wartawan berita, saya berusaha sekuat tenaga menerbitkan artikel dan opini berdasarkan fakta yang sesungguhnya; sebagai seorang terpelajar, saya bertanggung jawab mengembalikan wajah sejarah yang sesungguhnya, dan mewartakan sejarah yang sesungguhnya tersebut kepada lebih banyak lagi orang-orang yang telah tertipu selama ini.”

Meluruskan sejarah, mencari kebenaran

Di tengah daya upayanya mencari kebenaran dan melepaskan diri dari penipuan ini, Yang Jisheng secara bertahap berhasil mencari tahu latar belakang masyarakat di saat sang ayah meninggal dunia. Meskipun puluhan tahun sudah berlalu, pemikirannya terhadap penyebab kematian sang ayah justru kian hari kian mendalam.

Ketika ia mengetahui, bahwa pada tahun saat ayahnya meninggal telah terjadi bencana besar kelaparan, padahal di Tiongkok sama sekali tidak terjadi bencana alam apa pun, bahkan merupakan tahun-tahun yang normal dan biasa, meskipun tidak ada panen yang sukses besar tapi juga tidak ada bencana apa pun.

Ketika ia mengetahui, bahwa di propinsi Henan terjadi tragedi manusia memakan manusia, 1 juta orang di Xinyang mati kelaparan, dan di Bulog Henan masih terdapat persediaan 1,5 juta ton beras, dan di dekat propinsi Hebei sedikitnya masih ada persediaan makanan sebanyak 780 ribu ton, cukup dengan menggunakan kedua gudang logistik ini, bencana kelaparan itu sama sekali tidak akan mungkin terjadi.

Mao Zedong yang jelas-jelas sudah mengetahui bahwa korban yang meninggal kelaparan terus meluas, masih saja terus menumpuk persediaan bulog, kemarahannya semakin tidak terbendung.

Bencana kelaparan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah ulah yang ditimbulkan manusia, dan alasannya adalah kebohongan, ditambah lagi dengan program Komune Rakyat yang berfungsi mengendalikan manusia, kebohongan rencana perekonomian, dan kekejaman para penguasa pemerintahan yang diktator.

Pada saat seseorang sadar dari kebohongan yang dipercayainya sejak dulu, yang pertama terjadi adalah kemarahan, lalu ia akan terperangkap di dalam pemikiran untuk mencari kebenaran sejarah.

Yang Jisheng berkata, tragedi yang terjadi pada keluarganya, secara bersamaan juga terjadi pada puluhan juta keluarga lainnya di Tiongkok.

Yang Jisheng bertekad untuk tidak mengikuti arus, dan hanya menulis fakta sesungguhnya sesuai dengan keinginannya.

“Mengungkapkan kebenaran, mencari kebenaran, menjadi orang yang sejati” inilah cita-cita yang dikejarnya.

“Mengatakan kebenaran di depan kekuasaan. Tidak ada maksud apa pun, tidak ada yang ditakuti, pasti akan dapat berdiri tegak di antara langit dan bumi.”

Sejak awal era tahun 90–an abad ke-20 itu, Yang Jisheng memanfaatkan kesempatannya meliput ke berbagai daerah di seantero negeri, mengupas berbagai informasi dan data yang ada, mewawancarai setiap orang yang pernah melalui bencana kelaparan itu.

Mulai dari Daxibei hingga ke Daxinan, dari Huabei hingga ke Huadong, ia telah menggali informasi dari belasan propinsi, dan berhasil mewawancarai ratusan orang korban bencana tersebut, termasuk sejumlah staf tingkat menengah yang menjabat pada tahun bencana tersebut, juga para saksi mata yang berhasil selamat.

Setelah 10 tahun kerja keras, dengan mengumpulkan data yang terdiri dari puluhan juta kata, mencatat semua pembicaraan korban hingga mencapai belasan buku banyaknya. Akhirnya ia berhasil memperoleh keadaan dan fakta yang sebenarnya mengenai bencana kelaparan yang sempat melanda selama 3 – 4 tahun berturut – turut lamanya itu secara menyeluruh dan mendalam.

Yang Jisheng berkata, buku dengan judul “Batu Nisan” itu punya 4 lapisan makna: yang pertama adalah membuat batu nisan di makam ayah yang meninggal karena kelaparan pada tahun 1959; yang kedua adalah membuat batu nisan bagi 36 juta rakyat Tiongkok yang mati kelaparan; yang ketiga adalah membuat batu nisan bagi sistem pemerintahan yang telah menyebabkan bencana kelaparan itu terjadi; dan yang keempat adalah karena menulis buku ini sarat dengan ancaman bahaya politik, jika ia mengalami hal-hal yang tidak diinginkan karena menulis buku ini, maka hal ini dianggap sebagai pengorbanan dirinya terhadap idealisme yang diyakininya, maka dengan sendirinya akan menjadi batu nisan bagi dirinya sendiri.

Yang Jisheng menjadi saksi sejarah, mencatat bencana alam yang mengguncang dunia ini, untuk memperingatkan kepada dunia. Secara tegas ia menyatakan, penyebab dan akibat dari bencana kelaparan, secara tidak langsung telah memicu bencana lainnya — yakni Revolusi Kebudayaan.

Fakta yang menggemparkan, karya yang berbobot

Batu Nisan belum lama diperkenalkan pada masyarakat, sudah menarik perhatian sangat besar dari para pembacanya baik dari dalam maupun luar negeri, pujian pun banyak berdatangan. Seorang penulis bebas dan sejarahwan dari Tiongkok bernama Ding Dung mengatakan: Ini adalah karya sejarah terpercaya yang berbobot.

Penulis rubrik khusus di Financial Post, Inggris, yang juga seorang profesor di Harvard University yaitu Prof. Ding Xueliang memuji buku ini dengan sebutan “Batu Nisan yang tidak boleh tidak Anda baca”, “sebuah buku yang patut untuk dihargai”, dan “sangat berharga, sangat bermakna…”

Peneliti filosofi dari Institut Riset Sosiologi Tiongkok yang bernama Xu Yiuyu berpendapat, ini merupakan suatu mahakarya yang dapat disetarakan dengan karya seorang peraih piala Nobel bidang ilmu sastra bernama Aleksandr Isayevich Solzhenitsyn dengan karyanya yang berjudul The Gulag Archipelago.

Pada bab ke-22 buku tersebut, Yang Jisheng mengacu pada informasi dari dalam maupun luar negeri yang mencakup berbagai aspek, kesimpulan yang didapat dari hasil analisa perbandingan yang dilakukan dengan berbagai metode adalah: selama periode bencana kelaparan itu dari 1958 hingga 1962, korban di seluruh negeri telah mencapai angka sekitar 36 juta jiwa; di samping itu, karena kelaparan tersebut telah mengakibatkan angka kelahiran menurun, bayi yang seharusnya lahir tapi tidak dilahirkan mencapai angka 40 juta jiwa, bencana kelaparan ini telah membuat Tiongkok kehilangan 76 juta jiwa penduduk.

Tingkat kekejaman bencana kelaparan jauh melampaui efek yang timbul akibat Perang Dunia II. Selama 7 – 8 tahun berlangsungnya PD II, korban yang meninggal antara 40-50 juta jiwa. Di Tiongkok 36 juta jiwa tewas hanya dalam waktu 3 – 4 tahun, dan sebagian besar dari jumlah tersebut justru terpusat pada kurun waktu 6 bulan terakhir.

Menghadapi tragedi yang diciptakan oleh tangannya sendiri, para pemimpin PKC mengarang kebohongan dengan mengatakan bahwa semua itu adalah akibat dari “3 tahun bencana alam” dan “Rusia mengubah kebijakan dan menagih hutang”, semua dosa-dosanya dituduhkan kepada Tuhan dan Rusia, lama kelamaan akhirnya “3 tahun bencana alam” dan “Rusia menagih hutang” pun menjadi slogan bagi semua rakyat Tiongkok setiap kali mengenang kembali tahun – tahun terjadinya bencana kelaparan tersebut. Batu Nisan meng-kritik secara tajam dan mendetail masalah tersebut dengan bukti yang nyata.

Yang Jisheng menggunakan informasi cuaca yang dapat diandalkan dan pandangan para ahli meteorologi  senior, untuk menjelaskan keadaan cuaca sepanjang tahun selama 1959 hingga 1961.

Lebih lanjut ia menjelaskan, selama terjadinya kelaparan, pemerintah Tiongkok bahkan mengerahkan dana dalam jumlah besar untuk membantu sejumlah negara lain yang tertimpa musibah, dan beberapa negara di antaranya bahkan memiliki taraf kehidupan yang jauh lebih tinggi dan lebih baik daripada Tiongkok.

Pada 1960, terjadi korban meninggal karena kelaparan dalam jumlah yang besar, namun pihak penguasa yang memiliki stok cadangan pangan mencapai jutaan ton di gudang bulog, tidak berniat untuk mengeluarkannya. Justru sebaliknya terus menambah stok persediaan.

Ketika Mao Zedong mengetahui bahwa di Xinyang telah terjadi tragedi kelaparan tersebut, ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut dilatar belakangi gerakan perebutan kekuasaan oleh pihak musuh, adalah gerakan menentang revolusi, tindakan balasan terhadap berbagai lapisan masyarakat buruh secara menggila.

Metode penyelesaiannya adalah memberikan pelajaran tambahan mengenai revolusi demokrasi, hal ini telah menyebabkan pertikaian berskala besar di antara sesama staf lapisan dasar, pemecatan, dan penangkapan. Di tengah puluhan juta arwah gentayangan, ada sejumlah rakyat dipukul atau disiksa sampai mati.

Ada orang yang pernah berargumen, bahwa selama 3 tahun masa paceklik tersebut Mao Zedong juga senasib sependeritaan dengan seluruh rakyat Tiongkok lainnya, dengan tidak makan daging.

Buku ini menyadur sejumlah tulisan yang diterbitkan oleh penerbit pemerintahan yang menerangkan bahwa dalam menu makan Mao Zedong tercatat 17 jenis masakan ala Barat yang mewah.

Ada lagi seorang informan yang mengatakan, bahwa dokter menganjurkan Mao Zedong untuk mengonsumsi daging sapi dan kambing daripada daging babi karena tingginya kolesterol pada daging babi. Selama periode ini dikatakan bahwa, berbagai daerah justru membangun villa dan rumah peristirahatan bagi Mao dan anggota harian dewan politbiro yang kemewahannya melebihi rumah penginapan negara.

Ketika Batu Nisan diterbitkan di Hongkong, di Tiongkok dilarang. Yang Jisheng menyatakan, “Saya yakin, di Tiongkok, pada suatu hari nanti sistem pemerintahan diktator ini pasti akan digulingkan oleh demokrasi. Dan hal ini tidak akan lama lagi…….

Sebelum sistem diktatorisme ini mati, saya sudah lebih dulu membuatkan batu nisan baginya, agar generasi berikutnya mengetahui: pada suatu periode sejarah masyarakat manusia ini, di sejumlah negara, ada suatu sistem pemerintahan yang memperbudak manusia yang awalnya dibangun dengan dalih “menyelamatkan seluruh umat manusia”. Dan sistem pemerintahan ini kenyataannya bukanlah suatu “jalan menuju surga”, melainkan justru adalah jalan menuju kematian.”  (The Epoch Times/lie)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: